Mustikatimes.com- Ketika banyak band membicarakan masa muda sebagai sesuatu yang romantis dan abadi, The Jeblogs justru memilih jalur berbeda. Band rock asal Klaten ini berbicara apa adanya tentang hidup, kegelisahan, dan realitas anak muda sehari-hari.
Berangkat dari Lingkaran Sederhana
Awalnya, para personel The Jeblogs berkumpul di Karang Taruna Galur Manggala, Desa Jeblok. Dari ruang sederhana itu, mereka kemudian sepakat membentuk sebuah band. Karena berangkat dari lingkungan sendiri, The Jeblogs tumbuh dengan karakter yang jujur dan membumi.
Selanjutnya, semangat kolektif tersebut membentuk arah musik mereka. Alih-alih mengejar citra besar, The Jeblogs fokus membangun cerita yang dekat dengan kehidupan pendengarnya.
Band ini diperkuat Amir pada vokal, Valentino dan Febrianto pada gitar, Rian pada bass, serta Dani di drum. Bersama-sama, mereka meramu musik rock yang lugas, keras, namun tetap mudah dicerna.
Album yang Menegaskan Identitas
Setelah merilis album perdana Sambutlah, The Jeblogs tidak berhenti bergerak. Mereka kemudian merilis album lanjutan yang berisi delapan lagu. Melalui album ini, The Jeblogs mempertegas identitas musikal mereka secara utuh.
Selain itu, mereka menulis lirik tanpa banyak metafora rumit. The Jeblogs memilih kata-kata sederhana agar pesan dapat langsung sampai. Karena itu, pendengar bisa dengan mudah menangkap keresahan yang mereka suarakan.
Tema kegelisahan anak muda mendominasi album ini. Mulai dari rasa gelisah, perlawanan kecil, hingga kebingungan menghadapi hidup, semuanya hadir secara jujur dan apa adanya.
Rock Lugas dengan Benang Merah Kehidupan Anak Muda
Meski mengusung musik rock, The Jeblogs tidak terpaku pada satu warna saja. Di sisi lain, mereka memainkan rock dalam spektrum yang cukup lebar. Namun, mereka tetap menjadikan kehidupan anak muda sebagai benang merah utama.
Karena pendekatan tersebut, lagu-lagu The Jeblogs terasa dekat dan relevan. Pendengar tidak perlu menafsir terlalu jauh untuk memahami pesan yang mereka bawa. Musik mereka mengalir sebagai cerita, bukan sekadar luapan suara keras.
Akhirnya, The Jeblogs tampil sebagai band yang kuat karena kejujuran. Mereka tidak berusaha terlihat berisik tanpa arah. Sebaliknya, mereka menggunakan rock sebagai medium bercerita tentang masa muda yang nyata.