Beranda » Mustika » Puisi ‘Sujud Terakhir’ – Pdg Berpeci

Puisi ‘Sujud Terakhir’ – Pdg Berpeci

BLORA, MUSTIKATIMES.COM

malam itu bumi bergetar

bukan karena hujan

tapi karena luka yang sudah terlalu lama ditahan

KAI Perkuat Transportasi Inklusif, Stasiun Tanah Abang Jadi Percontohan

 

di lereng yang dulu hijau

akar – akar dipaksa tercerabut

pohon – pohon ditebang tanpa ampun

Tragedi di NTT dan Ironi Pendidikan: Makan Bergizi Gratis dan Buku Tulis

dan rakus menjelma menjadi kebijakan

yang mengabaikan sungai

 

di rumah kecil di tepi musola

Jadwal Puasa 2026 Bisa Berbeda, Simak Penetapan Muhammadiyah, Kemenag, dan NU

ia bersujud –

seorang hamba yang  tak pernah tahu

bahwa do’a terakhirnya

akan tenggelam bersama tanah yang

hilang penopangnya

 

deras turun dari bukit

membawa balak, ranting, dan keserakahan

yang telah ditebar tangan – tangan berkuasa.

lumpur itu bukanlah sekedar lumpur,

itu ialah dosa yang mengalir turun

menyapu apapun yang tak sanggup melawan

 

ketika dinding musola dan rumah runtuh

dan bumi runtuh bersama langit,

ia tetap menunduk,

setelah ingin mempertahankan

satu – satunya kesucian

yang belum di rampas dari desanya,

 

arus menyeret tubuhnya

namun tidak menyeret sujudnya

sujud itu tertinggal

tersimpan di dalam tanah yang mengingat

bahwa dialah hamba yang paling setia

dalam malam yang paling kelam.

 

orang – orang menemukannya esok hari,

diam dalam pelukan lumpur

yang bukan milik alam semesta

melainkan milik keserakahan manusia

yang menjual hutan demi kantongnya sendiri

 

dan kami tahu –

banjir malam itu bukan musibah biasa

tetapi terakan bumi

atas pohon – pohon yang dibunuh tanpa ampun

 

ia pergi dalam sujud,

sementara para rakus teta berdiri

meningkalkan jejak yang lebih kejam

daripada arus manapun

Artikel Terkait