Berita Musik
Beranda » Mustika » Lagu “Di Udara”, Cara ERK Merawat Ingatan Tentang Munir

Lagu “Di Udara”, Cara ERK Merawat Ingatan Tentang Munir

Mustikatimes.com- Grup musik asal Jakarta, Efek Rumah Kaca, menulis lagu untuk mengenang aktivis HAM Munir Said Thalib. Mereka memberi judul “Di Udara”, lagu yang bertahan lintas generasi dan menjangkau pendengar secara luas. Publik mengenalnya sebagai salah satu lagu perlawanan paling berpengaruh di Indonesia.

Bagi vokalis sekaligus gitaris Efek Rumah Kaca, Cholil Mahmud, Munir merepresentasikan keberanian yang tetap menyala, bahkan saat kegelapan mengepung.

Cholil tidak pernah mengenal Munir secara pribadi. Namun, kisah perjuangan Munir yang ia baca di media dan dengar dari berbagai cerita cukup membangkitkan kekaguman sekaligus rasa hormat.

“Andaikata [Munir masih hidup], wah, saya mungkin akan banyak belajar secara langsung. Kalau memang ada kesempatan bertemu,” ujar Cholil sambil tersenyum.

Bio Paulin Bikin Pasuruan United Tampil Dominan Tanpa Kebobolan

Meski tak pernah berjumpa, Cholil tetap membuka ruang untuk mengenal Munir lewat cara lain. Kematian Munir pada September 2004 justru mendorong Efek Rumah Kaca menghadirkan sosok itu ke panggung yang paling mereka pahami: musik.

Panggung itu bernama “Di Udara.”

Dokumenter yang Menggerakkan Lagu

Pada 2005, di Goethe Institute Jakarta, Cholil menyaksikan film dokumenter Garuda’s Deadly Upgrade. Film berdurasi sekitar 41 menit itu merekonstruksi pembunuhan Munir Said Thalib dengan racun arsenik dosis tinggi.

Munir meninggal dunia dalam penerbangan menuju Belanda untuk melanjutkan studi. Ia mengembuskan napas terakhir saat pesawat melintas di atas langit Rumania, tak lama sebelum mendarat di Amsterdam. Racun arsenik memicu muntah hebat, dehidrasi, tubuh melemah, hingga akhirnya merenggut nyawanya. Pengadilan kemudian mengungkap bahwa Pollycarpus Priyanto, pilot yang juga agen intelijen, memasukkan racun tersebut.

Medan Falcons Bertekad Menangi 2 Laga Kandang

Usai menonton dokumenter itu, Cholil merasa takjub pada energi perjuangan Munir yang para narasumber ceritakan.

Namun, kegelisahan juga muncul.

“Kok saya merasa apa yang dia perjuangkan itu enggak banyak orang yang tahu,” kata Cholil.

Padahal, menurut Cholil, Munir memiliki reputasi besar sebelum meninggal dunia.

Fajar Sadboy Jadi Sorotan di Web Series “Yang Penting Ada Cinta”

“Dia banyak membela kaum buruh di Surabaya maupun di Jakarta, lalu membikin KontraS,” jelasnya.

Dari sanalah muncul keinginan untuk memberi penghormatan kepada Munir lewat lagu agar publik terus mengingatnya.

Merangkai Musik, Menyusun Lirik

Efek Rumah Kaca biasanya memulai lagu dari musik, lalu menambahkan lirik. Ketika struktur musik “Di Udara” terbentuk, Cholil langsung memikirkan Munir sebagai tema utama.

“Kalau Efek Rumah Kaca bikin lagu biasanya musiknya, baru liriknya,” jelas Cholil.

Efek Rumah Kaca menyusun musik dengan nuansa tegang, marah, dan penuh harapan. Setelah itu, Cholil mulai menulis lirik dan menyesuaikannya dengan kebutuhan musikal.

“Kalau lagunya butuh 10 suku kata tapi liriknya 15, kepanjangan. Nadanya bisa berubah,” ujarnya.

Proses itu melahirkan lirik yang ringkas, lugas, dan tidak berlebihan secara dramatik.

Aku sering diancam
Juga teror mencekam

Dua baris pembuka itu merefleksikan konsekuensi aktivisme HAM yang Munir dan banyak pegiat lain alami. Perlawanan terhadap kekuasaan kerap berujung ancaman dan teror.

Ku bisa tenggelam di lautan
Aku bisa diracun di udara
Aku bisa terbunuh di trotoar jalan

Lewat bagian ini, Efek Rumah Kaca menggambarkan bentuk-bentuk teror yang membayangi pejuang HAM. Frasa “diracun di udara” merujuk langsung pada tragedi Munir.

Namun, lagu ini menolak berhenti pada ketakutan.

Tapi aku tak pernah mati
Tak akan berhenti

Meski ancaman datang bertubi-tubi, keberanian tidak pernah surut. Ia tumbuh, menjalar, dan menguat.

Efek Rumah Kaca sengaja tidak menyebut nama Munir dalam lirik. Mereka menghadirkan Munir lewat situasi dan sikap. Dalam lagu ini, Munir berubah menjadi kata kerja.

Sosok yang Tak Bisa Dibeli

Lewat “Di Udara”, Cholil menempatkan Munir sebagai sosok dengan idealisme yang tak bisa ditawar.

“Dia orang yang sangat enggak bisa dibeli, sehingga harus dihabisi dengan berbagai cara,” kata Cholil.

Menurutnya, Munir memiliki ideologi keberpihakan kepada kelompok lemah yang sangat kuat.

Cholil juga menolak memosisikan Munir sebagai figur tanpa rasa takut.

“Itu yang sangat sulit bahkan hingga sekarang mencari sosok seperti itu,” ucapnya.

Lewat lagu ini, Efek Rumah Kaca ingin menyalurkan semangat keberanian tersebut kepada publik.

“Bahwa, dengan lirik di lagu itu, kita semua itu Munir,” tegas Cholil.

“Paling Berani Setelah 1998”

Drummer Efek Rumah Kaca, Muhammad Akbar, menyebut Munir sebagai aktivis yang “paling berani selepas Reformasi 1998.” Ia mengenal Munir dari informasi yang beredar di ruang publik, sama seperti Cholil.

Akbar langsung sepakat ketika Cholil menceritakan pengalamannya menonton dokumenter Garuda’s Deadly Upgrade.

“[Lagunya] lumayan ada ketegangan, ada intensitas yang makin tinggi,” kenang Akbar.

Meski liriknya tidak menyebut nama Munir, Akbar menilai maknanya tetap kuat dan menyala.

Kini, “Di Udara” menemukan momentumnya. Saat Efek Rumah Kaca tampil di berbagai panggung, penonton sering membawa poster bergambar wajah Munir, bahkan hingga ke Malaysia.

“Lagu ini selalu berkobar,” kata Akbar.

Perlawanan Tak Pernah Mati

Setiap kali Efek Rumah Kaca membawakan “Di Udara”, Cholil merasakan energi yang sama. Penonton menyambut lirik “aku tak pernah mati” dengan koor lantang dan kepalan tangan yang terangkat.

“Ini ekspresi yang dipantulkan dari situasi yang terjadi sekarang,” ujar Cholil.

Efek Rumah Kaca kerap mengangkat tokoh-tokoh perlawanan lain dalam karya mereka, seperti Sondang Hutagalung, jurnalis Udin, dan keluarga korban penghilangan paksa 1998. Namun, Munir memiliki tempat khusus di hati pendengar.

Lewat “Di Udara”, mereka berharap lagu ini menjaga keyakinan akan masa depan yang lebih adil.

“Walaupun sekecil apa pun perlawanan itu diambil, dia layak dicatat, layak dirayakan, dan layak dipupuk,” pungkas Cholil.

Karena bagi Efek Rumah Kaca, keberanian tidak pernah benar-benar mati. Ia terus bergerak, berpindah, dan hidup di udara.

Artikel Terkait