Beranda » Mustika » Industri Stand Up Comedy Indonesia dalam Pusaran Ekonomi Kreatif

Industri Stand Up Comedy Indonesia dalam Pusaran Ekonomi Kreatif

Mustikatimes.com – Stand up comedy bukan sekadar hiburan yang menghadirkan tawa dan kesadaran sosial. Industri ini juga membuka peluang ekonomi besar bagi para pelaku dan sektor usaha di sekitarnya.

Menurut Safina, Tunaja, stand up comedy pertama kali muncul di Amerika Serikat melalui Teater Vaudeville pada abad ke-18. Seiring waktu, format tersebut berkembang menjadi pertunjukan modern yang kini dikenal luas.

Di Indonesia, konsep lawak tunggal sebenarnya sudah hadir sejak era 1970-an. Sejumlah kelompok seperti Srimulat, Warkop DKI, dan Sersan Prambors kerap menampilkan format serupa. Namun, masyarakat saat itu belum mengenal istilah stand up comedy seperti sekarang.

Banyak pihak menganggap Ramon Papana sebagai pelopor stand up comedy di Indonesia. Sejak 1997, ia aktif menggelar pertunjukan komedi tunggal di Komedi Cafe, Jakarta.

Livin’ Mandiri Menang 3-0 atas Medan Falcons di Proliga 2026

Popularitas stand up comedy meningkat pesat pada 2011. Saat itu, Ernest Prakasa, Rian Adriandhy, Raditya Dika, dan Isman H. Suryaman menggagas komunitas Stand Up Comedy Indonesia (SUCI). Kehadiran komunitas ini melahirkan berbagai kompetisi seperti SUCI dan SUCA yang kemudian mencetak banyak komika terkenal.

Berbeda dari pertunjukan komedi konvensional, stand up comedy identik dengan kritik sosial. Di Amerika Serikat, George Carlin dikenal sebagai komika yang lantang mengkritik pemerintah melalui satire. Di Indonesia, Panji Pragiwaksono juga sering mengangkat isu sosial dalam materinya.

Potensi Ekonomi Stand Up Comedy

Dari sisi ekonomi, profesi komika menawarkan peluang menjanjikan. Sebuah studi mencatat industri live comedy di Inggris mampu menghasilkan lebih dari 1 miliar euro per tahun.

Di Indonesia, nilai ekonominya memang belum setara Inggris. Namun, indikator pertumbuhan industri ini mulai terlihat jelas.

KAI Perkuat Transportasi Inklusif, Stasiun Tanah Abang Jadi Percontohan

Model bisnis stand up comedy di Indonesia melibatkan beberapa sumber pendapatan. Pertama, penjualan tiket pertunjukan menjadi sumber utama meski bersifat fluktuatif. Pertunjukan besar biasanya mematok harga tiket kelas menengah hingga premium.

Kedua, komika memperoleh pemasukan dari menjadi host acara dan pembicara. Ketiga, mereka memanfaatkan konten digital seperti YouTube, podcast, serta klip media sosial untuk meraih pendapatan iklan dan sponsor. Selain itu, komika yang memiliki basis penggemar kuat juga meraih keuntungan dari sponsorship dan penjualan merchandise.

Industri ini juga menggerakkan ekonomi lokal. Setiap pertunjukan mendorong sektor akomodasi, pariwisata, serta usaha makanan dan minuman. Penyelenggara acara juga membuka lapangan kerja di daerah tempat pertunjukan berlangsung.

Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif turut mendukung acara seperti Stand Up Fest. Dukungan ini menunjukkan pengakuan terhadap nilai ekonomi dan budaya komedi.

Stereo Wall Rilis “Sisa Asa”, Tanda Era Baru Bersama Vokalis Zeva

Tantangan Industri Komedi Tunggal

Meski menjanjikan, profesi komika tetap menghadapi tantangan. Banyak komika mengalami pendapatan yang tidak konsisten. Industri ini juga masih bergantung pada kota-kota besar. Selain itu, sponsor dan kolaborasi belum merata.

Pelaku industri juga menghadapi persoalan komodifikasi materi yang belum optimal serta ketidakpastian acara saat krisis ekonomi. Bahkan, sebagian komika masih menghadapi ancaman kriminalisasi akibat materi kritik yang mereka sampaikan.

Meski begitu, stand up comedy tetap menawarkan peluang ekonomi yang nyata. Jika Inggris mampu menghasilkan 1 miliar euro dari industri ini, stand up comedy Indonesia juga berpotensi berkembang pesat di masa depan. Dukungan ekosistem dan kebebasan berekspresi menjadi kunci pertumbuhannya.

Artikel Terkait