Beranda » Mustika » Tragedi di NTT dan Ironi Pendidikan: Makan Bergizi Gratis dan Buku Tulis

Tragedi di NTT dan Ironi Pendidikan: Makan Bergizi Gratis dan Buku Tulis

Nusa Tenggara Timur, MUSTIKATIMES.COM – Kematian YBR (10), seorang siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), bukan sekadar berita duka di kolom kriminal. Isu yang melatarbelakanginya—diduga karena rasa kecewa tak mampu membeli buku tulis dan alat sekolah—adalah sebuah tamparan keras bagi wajah pendidikan Indonesia.

Di tengah ambisi pemerintah mengejar target-target besar, peristiwa ini memicu pertanyaan pahit: Apakah negara telah gagal menjamin hak dasar pendidikan anak bangsa?

Hak Pendidikan yang Terpinggirkan

Konstitusi kita tegas mengamanatkan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Namun, realitas di lapangan menunjukkan jurang yang menganga. Bagi sebagian keluarga di pelosok NTT, harga sebuah buku tulis dan pulpen bisa menjadi beban yang tak tertahankan di tengah himpitan ekonomi.

Tragedi ini menjadi ironis ketika kita melihat arah kebijakan pusat yang belakangan sangat gencar mempromosikan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Tentu, memberi asupan nutrisi bagi anak adalah langkah mulia untuk mengatasi stunting. Namun, apa gunanya perut yang kenyang jika tangan anak-anak kita tak mampu memegang pena karena tidak sanggup membelinya?

Mahasiswa KKN UIN Walisongo Kenalkan 3J Tips Diet bagi Penderita Diabetes Melitus

Dilema Prioritas: Makan vs Fasilitas Belajar

Pemerintah tampak sangat fokus pada pemenuhan kebutuhan jasmani melalui anggaran jumbo untuk makan gratis. Namun, kasus di Ngada membuktikan bahwa hambatan pendidikan bukan hanya soal rasa lapar di sekolah, melainkan juga biaya-biaya pendukung (peralatan sekolah, seragam, hingga akses) yang sering luput dari skema bantuan pemerintah daerah maupun pusat.

Ada beberapa poin yang patut menjadi koreksi bersama:

  • Ketimpangan Distribusi Bantuan: Mengapa bantuan operasional sekolah (BOS) belum mampu menyentuh kebutuhan paling dasar siswa dari keluarga kurang mampu secara individu?

  • Fokus Anggaran: Apakah anggaran fantastis untuk Makan Bergizi Gratis telah menggerus porsi anggaran yang seharusnya bisa digunakan untuk memastikan tidak ada lagi anak yang putus sekolah—atau bahkan putus asa—hanya karena buku tulis?

    Jawaban Hidup Sehat, Mahasiswa KKN UIN Walisongo Bagikan Tips Diet Sehat Bagi Penderita Hipertensi

  • Kehadiran Negara di Pelosok: Negara tidak boleh hanya hadir dalam bentuk statistik pertumbuhan, tapi harus hadir di ruang-ruang kelas di pelosok yang sarat keterbatasan.

Menagih Marwah Pendidikan

Pendidikan adalah jalan keluar dari kemiskinan. Jika untuk mengakses “jalan” tersebut seorang anak harus kehilangan harapan hingga memilih mengakhiri hidup, maka sistem kita sedang sakit.

Makan siang yang bergizi memang penting untuk pertumbuhan otak, tetapi pendidikan yang terjangkau dan manusiawi adalah nutrisi bagi jiwa dan masa depan bangsa. Jangan sampai demi mengejar program populis yang tampak mentereng di mata publik, kita mengabaikan kebutuhan fundamental yang menentukan hidup-mati semangat belajar anak-anak di daerah tertinggal.

Tragedi YBR adalah pengingat keras bagi pemerintah: Jangan biarkan buku tulis menjadi barang mewah yang harus dibayar dengan nyawa.

KAI Perkuat Transportasi Inklusif, Stasiun Tanah Abang Jadi Percontohan

Artikel Terkait