Jakarta, mustikatimes.com – Sejumlah aplikasi media sosial ikut meraup keuntungan setelah TikTok resmi memiliki struktur kepemilikan baru di Amerika Serikat (AS). Salah satu yang mencuri perhatian adalah UpScrolled, platform besutan Issam Hijazi, pengembang asal Palestina-Yordania-Australia.
Hijazi meluncurkan UpScrolled pada Juli 2025 dengan dukungan Tech for Palestine, proyek advokasi yang mendanai teknologi pro-Palestina. Meski tergolong baru, platform ini langsung mencatat pertumbuhan pengguna yang signifikan.
Dalam pernyataan terbarunya, Hijazi menyampaikan jumlah pengguna UpScrolled sudah menembus 2,5 juta akun secara global. Ia mencatat lonjakan pengguna terjadi sejak awal Januari.
“Kami diluncurkan enam bulan lalu dan jumlah pengguna kami meningkatkan sekitar 150 ribu hingga awal Januari. Dan dalam beberapa hari terakhir, kami mencapai lebih dari 1 juta pengguna secara global, Sekarang, mulai hari ini, kami melampaui 2,5 juta pengguna secara global,” jelasnya dikutip Tech Crunch, Selasa (3/2/2026).
Usung Konsep Gabungan Instagram dan X
UpScrolled mengusung konsep gabungan Instagram dan X. Platform ini mengklaim diri sebagai ruang inklusif yang memberi tempat bagi semua suara tanpa menerapkan shadowban atau sensor selektif.
Hijazi secara terbuka mengkritik perusahaan teknologi besar yang menurutnya kerap menjual data pengguna demi keuntungan. Ia juga menuding sejumlah jejaring sosial menekan konten pro-Palestina dan melakukan sensor secara selektif.
“Mereka tidak peduli menjual data Anda dengan orang jika artinya membuat keuntungan bagi mereka. Dan tidak peduli dengan kesehatan mental Anda, artinya akan merancang sesuatu untuk membuat kecanduan menggunakan platform selama menguntungkan untuk mereka,” jelasnya.
Kritik Konten Dewasa dan Respons Perusahaan
Kebijakan tanpa sensor memicu gelombang kritik dari sebagian pengguna. Mereka menilai UpScrolled memuat terlalu banyak konten porno dan unggahan telanjang.
Hijazi merespons kritik tersebut dengan menyiapkan pedoman komunitas yang mematuhi hukum di berbagai wilayah operasional. Ia bersama timnya kini mengumpulkan para ahli untuk memperkuat aturan komunitas dan menampung masukan pengguna.
Sebelum mendirikan UpScrolled, Hijazi berkarier di Oracle dan IBM. Ia memutuskan meninggalkan pekerjaannya dan membangun platform sendiri saat serangan Israel ke Gaza terjadi.
Ia mengaku melihat peluang ketika banyak kreator mengeluhkan sensor di platform besar. Kondisi itu mendorongnya menghadirkan alternatif di luar dominasi Big Tech.
“Saya menemukan celah dengan banyak orang bertanya mengapa tidak ada alternatif selain platform Big Tech untuk konten mereka, yang terus disensor. Jadi saya berpikir, mengapa kita tidak membangun sendiri? Saya langsung terjun dan membangunnya,” jelas Hijazi.
Selain UpScrolled, platform lain juga menikmati momentum perubahan kepemilikan TikTok di AS. Skylight berbasis AT Protocol misalnya, berhasil melampaui 380 ribu pengguna dalam periode yang sama.