Jakarta, mustikatimes.com– Produktivitas tinggi sering dianggap sebagai tanda kesuksesan. Namun, di balik jadwal padat dan target yang terus tercapai, kebiasaan ini justru bisa memicu burnout dan mengganggu kesehatan mental.
Banyak orang terlihat selalu sibuk dan penuh energi. Mereka menyelesaikan berbagai tugas dan jarang beristirahat. Tak sedikit yang lalu meniru pola kerja tersebut demi terlihat sukses.
Padahal, ritme kerja tanpa batas sering mendorong seseorang melampaui kemampuan fisik dan mentalnya. Kondisi inilah yang membuat orang sangat produktif justru rentan burnout.
Apa Itu Burnout?
Burnout merupakan kelelahan ekstrem secara fisik, mental, dan emosional akibat tekanan berkepanjangan, terutama pekerjaan.
Menurut WebMD, burnout berbeda dengan stres. Stres muncul karena terlalu banyak tekanan. Sementara itu, burnout membuat seseorang merasa kehabisan motivasi, kepedulian, dan harapan hingga energinya terkuras.
Jika dibiarkan, burnout dapat menurunkan produktivitas dan merusak kesehatan mental.
Penjelasan Psikologi
Psikolog Herbert Freudenberger pertama kali memperkenalkan istilah burnout pada 1970-an. Dikutip dari American Psychological Association, Profesor Psikologi Christina Maslach, PhD menegaskan bahwa burnout bukan diagnosis medis.
Ia menjelaskan bahwa burnout muncul sebagai respons terhadap stres kerja kronis yang tidak terkelola. Kondisi ini memicu kelelahan, sikap sinis terhadap pekerjaan, serta turunnya rasa percaya diri.
“Jadi, (burnout) mencakup tiga komponen: respons stres kelelahan, respons negatif terhadap pekerjaan berupa sinisme, dan respons negatif terhadap diri sendiri berupa ketidakmampuan,” ujarnya.
Terlalu Produktif Bisa Jadi Bahaya
Budaya hustle sering menampilkan kesibukan sebagai simbol sukses. Padahal, tekanan untuk terus bekerja justru memicu stres berkepanjangan.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa beban kerja berat dan terus-menerus meningkatkan risiko burnout. Jam kerja tidak teratur, lembur, sistem shift, serta ketidaksesuaian harapan dan realitas kerja menjadi pemicu utama.
Psikolog Dr. Jeanne Hoffman, dikutip dari UW Medicine, menegaskan dampaknya:
“Orang yang bekerja sepanjang waktu justru menjadi kurang produktif dan lebih sering sakit karena pekerjaan yang terus-menerus.”
Ciri Produktivitas Tidak Sehat
Beberapa tanda produktivitas berlebihan yang perlu diwaspadai:
- Selalu merasa harus sibuk, bahkan saat istirahat
- Menilai harga diri dari seberapa banyak pekerjaan
- Mengabaikan tidur, makan, dan waktu pribadi
- Kehilangan minat pada hobi dan aktivitas menyenangkan
Tanda Burnout yang Sering Terabaikan
Burnout sering berkembang perlahan. Tandanya antara lain kelelahan kronis, hilangnya motivasi, gangguan tidur, perubahan pola makan, sikap sinis terhadap pekerjaan, serta penurunan performa.
Jika kondisi ini berlanjut, seseorang akan sulit fokus dan mudah frustrasi.
Produktif Sehat vs Produktif Berlebihan
Produktivitas sehat membantu seseorang bekerja giat tanpa mengorbankan kebutuhan diri. Ia mampu mengatur waktu, beristirahat, dan menikmati kehidupan pribadi.
Sebaliknya, toxic productivity memaksa seseorang terus bekerja tanpa jeda. Rasa bersalah muncul saat berhenti, meski tubuh sudah kelelahan.
Cara Tetap Produktif Tanpa Burnout
Agar produktivitas tetap sehat, lakukan hal berikut:
- Tetapkan batasan jam kerja
- Tentukan prioritas yang realistis
- Ambil waktu istirahat secara rutin
- Hindari multitasking berlebihan
- Jaga keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi
Kapan Perlu Bantuan Profesional?
Cari bantuan profesional jika kelelahan emosional tidak membaik meski sudah beristirahat. Terutama jika burnout mulai mengganggu pekerjaan, hubungan sosial, atau aktivitas harian.
Segera hubungi psikolog atau psikiater bila muncul gangguan tidur berat, kecemasan berlebihan, rasa putus asa, atau pikiran menyakiti diri sendiri.
Produktivitas seharusnya meningkatkan kualitas hidup, bukan mengorbankan kesehatan. Mengenali batas diri dan berani beristirahat merupakan langkah penting untuk mencegah burnout..